Monthly Archives: March 2017

Deretan Logo Klub Terburuk di Dunia

1. Rb Leipzig

Deretan Logo Klub Terburuk di Dunia

RB Leipzig yang dibenci begitu banyak orang dibiayai oleh Red Bull, produsen minuman energi dan malaikat bagi para supir yang mengendarai truk. Anda mungkin bisa melihatnya dari logo klub mereka yang historis ini. Ngomong-ngomong, nama mereka adalah ‘RasenBallSport Leipzig’ yang berarti “Olahraga Bola Rumput Leipzig”, dan tentu saja itu benar-benar nama mereka dan hanya kebetulan saja memiliki inisial yang sama dengan Red Bull. Tapi peraturan di sepakbola Jerman melarang adanya iklan di logo mereka. Jadi, Leipzig yang non-Red Bull ini memilih memiliki dua banteng merah yang menanduk bola emas, sebuah gambar yang sama sekali tidak terlihat seperti logo Red Bull.

2. FC Sheriff Thiraspol

Deretan Logo Klub Terburuk di Dunia

Sebagai tim yang sering menjadi juara di Liga Moldova dan juga beberapa kali tampil di Europa League, Sheriff dibentuk oleh sebuah perusahaan bernama Sheriff, bermain di Stadion Sheriff, dan memiliki logo sheriff sebagai, well, logo mereka. Jelas sekali seseorang di klub ini adalah fans berat John Wayne. Tetap saja, meletakkan bintang di atas bintang, yang dilengkapi juga dengan bola yang dibentuk dari bintang, mungkin saja memang terlalu berlebihan.

3. Burton Albion

Deretan Logo Klub Terburuk di Dunia

Sebagian besar klub mencoba untuk membuat citra klub mereka semakin mengkilap saat menyentuh level baru. Tidak dengan Burton. The Brewers saat ini berada di titik tertinggi dibandingkan sebelumnya, tapi mereka menolak untuk mengubah logo tim pub yang mereka gunakan. Lihat saja. Lihat baik-baik ke keindahan luar biasa ini. Lambang yang dipilih Burton Albion untuk mewakili mereka ke dunia adalah seorang gendut yang secara aneh dan tidak proporsional yang gagal melakukan kontrol bola di sepatu dansanya. Mungkin ini adalah sebuah peringatan tentang bahaya yang dihadapi Brewers untuk terlalu menikmati persediaan mereka sendiri.

4. Warriors

Deretan Logo Klub Terburuk di Dunia

Warriors memiliki nama Singapore Armed Forces FC hingga tahun 2013. Mereka tidak pernah mendapat julukan The Rhinos atau si Badak. Tapi saat S. League (Yup, begitu cara mereka mengejanya) menegaskan bahwa semua maskot haruslah binatang, menolak logo seorang warrior (pertarung) milik Warrior, klub ini memilih badak, meski tidak ada seorangpun di klub mereka yang bisa menggambarnya. Usaha mereka begitu setengah hati, nyaris terlihat bagus. Kata kuncinya di sini adalah ‘nyaris’.

Istri Luis Milla Berpendapat Soal Makanan Indonesia

Istri Luis Milla Berpendapat Soal Makanan Indonesia

Memiliki pelatih baru di Indonesia tak hanya disoroti pelatihnya saja melainkan juga istri dan anak-anaknya serta kehidupan pribadinya. Maria Luisa mengaku menikmati kehidupannya di Indonesia. Ini bukan kali pertama Luisa menemani Luis Milla Melatih. Pada seleksi timnas U-22 Indonesia tahap ketiga yang digelar awal Maret 2017, ia juga menyempatkan diri hadir di lapangan.

Luisa merasa sangat senang berada di Indonesia. Ia menyatakan tidak mengalami banyak kendala dalam beradaptasi. ”Orang-orang di Indonesia sangat baik, tetapi lalu lintasnya sangat macet di sini,” ujar Luisa kepada wartawan.

”Saya sangat suka masakan Asia meski cukup pedas,” ucapnya. Satu hal tentang sepak bola yang mendapatkan apresiasi dari Luisa adalah etos kerja keras dari para pemain.

”Mereka menunjukkan semangat yang besar untuk berkembang,” tutur dirinya.

Untuk sementara, Luisa adalah satu-satunya keluarga yang menemani Luis Milla di Indonesia. Kedua anak mereka baru akan datang dari Spanyol pada pertengahan tahun ini. Indonesia akan menjalani laga uji coba melawan Myanmar di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor pada Selasa (21/3/2017).

“Saya selalu mendukung dia (Milla), saya ikut juga ke sini supaya dia tidak merasa sendiri dan kesepian,” ungkap Maria kepada awak media. “Makanan di sini tidak masalah. Saya suka masakan Asia meski sedikit pedas,” jelasnya.

Dalam waktu dekat, Paulita Milla dan Luis Milla Jr, yang merupakan anak dari Milla dan Maria, akan berkunjung ke Indonesia. Paulita sendiri begitu mendukung keputusan Milla ketika menerima kontrak dua tahun dari PSSI, Januari lalu.

“Untuk cuaca saya rasa di sini tidak ada masalah. Saya cukup menikmatinya karena tidak jauh berbeda dengan di Spanyol,” jelas Maria. “Untuk anak-anak, mereka sudah punya rencana untuk datang ke sini pada liburan musim panas nanti.”  Spanyol dan Indonesia jelas punya banyak perbedaan dalam berbagai hal, seperti budaya, waktu, makanan dan cuaca. Tapi hal itu tak jadi sesuatu yang berat bagi Maria, yang kembali menemani Milla pada sesi latihan timnas, pagi (17/3) tadi.